Di kota itu kutemukan cinta

Posted on

Dearest Y,

 

Aku tidak pernah menyesali perjalanan spontan yang kulakukan saat menjelang akhir tahun kemarin ke Yogyakarta. Kamu tau sebabnya? Alasan terbesar adalah aku dapat mengenalmu saat itu. Kamu tau sayang, aku tidak pernah menyangka kalau aku akhirnya luluh dengan perhatianmu sehingga akhirnya kita menjadi pasangan saat ini.

 

Terima kasih karena telah kau berikan kembali senyumku. Optimisme dalam hal cinta. Dan akhirnya bisa percaya klo cinta yang tidak egois itu ada. Bahkan jarak kita yang jauh pun tidak menyurutkan niatku untuk menjalin kasih denganmu. Tidak bosan-bosannya kau beri aku semangat kalau kita akan bisa menjalani cobaan LDR ini. Aku tidak munafik dengan mengatakan aku tidak butuh seseorang pacar yang dekat yang bisa ada ketika sewaktu-waktu dibutuhkan. Tapi untukmu aku ingin mencobanya sayang. Kita coba bersama-sama yah? selama kamu mau berusaha, aku janji aku juga :).

 

Sekarang aku hanya menunggu kedatanganmu ke kotaku kembali. Aku mengerti jarak kita yang jauh membuatmu tak leluasa untuk meluangkan waktu setiap malam minggu untuk apel ke rumahku. Bisa dibilang cinta kita berat diongkos yah sayang…hehehe tapi aku seneng loh waktu denger kamu tambah semangat cari uangnya biar bisa nengokin aku terus :D. Aku juga berjanji kalau ada waktu dan rejeki aku akan mengunjungimu di kota Yogya. Aku ingin kita bisa eksplore bersama-sama kota kelahiranmu itu. Yup, kita sudah merangkai mimpi dan harapan untuk menghabiskan waktu terus bersama-sama. Mudah-mudahan harapan ini didengarkan. Kamu, aku, bersama.

 

Aku kangen banget sama kamu, aku yakin kamu juga. Jaga diri baik-baik yah, inget loh ada seseorang yang menunggu kamu di kota Jakarta ini.

 

PS : Andai aku bisa memutar waktu jadi lebih cepat hingga awal Februari #maunya hehehe 😛

 

#30harimenulissuratcinta

 

Puisi from Buya Hamka

Posted on Updated on

******

OH.. kau kiranya, bertemu pula

Setelah 15 tahun kita berpisah

Janganlah gugup. Sudahkah sembuh luka hatimu?

Di aku sudah.! Tapi payah aku melipur jejaknya

Parutnya masih berkesan di dadaku

15 tahun, bertemu pula

Setelah kita lalui jalan hidup masing-masing

Maafkan daku. Bersiapakah aku mestinya

Adinda, kekasih, juwita yang pernah kuucapkan di mukamu dulu

Atau dalam surat-surat yang pernah kukirimkan

Tidak ‘kan kuucapkan lagi

Aku takut…,

Obat lekat pantang terlampau

Kembali penyakit lama

Ah.. tidak.. Aku mulai tua

15 tahun

Sudah berapakah anakmu

Adakah suamimu sehat saja

Beruntung dalam rumah tangga

..Tak usah gugup!

15 tahun

Melihat kau sekarang, kuteringat kau yang dulu

Kau yang ada dalam kenanganku

Kau yang tergambar dalam hatiku

Aku teringat

Mudaku dan mudamu

Semasa kita masih menyangka, alam boleh sekehendak kita

Padahal.. Takdir tak mengizinkan kita bertemu

Hidup kita tak dapat dipadu menjadi satu

Kau mengambil jalanmu sendiri – terpaksa atau tidak

Dan aku pun

Mengambil jalanku pula

 15 tahun

Aku telah berjalan, dan berjalan jua

Tapi dalam sudut hatiku, kau telah menjadi pelita yang hidup

Kaulah pelitaku

Tanglongku

Dalam kegelapan malam yang senyap sunyi

Sehingga aku menjadi aku

Walaupun kau tak merasa. Barangkali..

15 tahun

Tertawa aku, tertangis aku

Tersenyum tersedu

Mendaki ku menurun

Melereng ku mendatar

Pernah kunaik, pernah kujatuh

Jatuh dan bangkit lagi, lalu berjalan jua

Sahaja mati yang belum kurasai

Sehingga aku menjadi aku

Dan perjumpaan kita, 15 tahun yang telah lalu

Adalah pendorong perjuangan hidupku

Hari ini..

Setelah 15 tahun

Kitapun berjumpa pula

Aku dengan engkau

Kau yang sekarang

Maka teringatlah aku. Kau yang dulu

Kalau bukan lantaran kau yang dulu

Tentulah air mataku tidakkan titik ke bumi

Garam hidupku yang kulalui

Air mata itulah yang kususun kembali

Sesudah dia jatuh berderai bagai manik putus pengarang

Kujadikan gubahan buat kau. Kau yang dulu

Sehinggaku menjadi Aku

 15 tahun…

Alangkah cepatnya putaran zaman

Wahai orang yang sekian lama terlukis di sudut hatiku

Jangan engkau salah terima, Wahai kau yang sekarang

Sekiranya aku melihat tenang. Merenung wajahmu

Izinkanlah sejenak, aku mencari, mencari

Aku ini kehilangan

Dia. Dia akan kucari dalam ruang matamu

Kau yang dulu

Berjalan lurus, dan teruslah

Pikullah kewajiban yang telah ditentukan Tuhan

Buat kau. Dan aku pun

Meneruskan jalanku pula

Berjalan dan berjalan jua

Mendatar, melereng, mendaki dan menurun

Kau lihat. Rambut putih telah mulai berjuntai di ubun-ubunku

Kau lihat. Tiga garis telah mulai ada di keningku

Alamat, sengitnya perjuangan yang telah kutempuh dulu dan kuhadapi lagi

Marilah sama-sama, meneruskan perjalanan

Melaksanakan hayat

Jauh… dan jauh lagi

 Hanya sebuah harapanku tinggal

Semoga usia sama panjang

Dapat berjumpa pula 15 tahun yang akan datang

Mau atau tidak mau

KAU… dan AKU….

(Buya Hamka, dalam buku Kenang-kenangan Hidup, 1951)

***********

Membaca barisan kalimat-kalimat dari Buya Hamka selalu sukses bikin gue trenyuh, so powerfull. Setiap kalimat tuh seperti bercerita…what a sad story 😦

Because I like it so much, I want to share it with all of you readers.


“10 Hal Yang Dicari Laki-Laki”

Posted on

Yup, this fine article is for ladies only. Gue ga tau nemu artikelnya dimana, tapi every ladies should at least read about this. It was for your own good, but I believed every women beautiful within herself.

Laki-laki biasanya mempunyai kriteria tersendiri untuk menentukan wanita pujaannya. Artikel ini menunjukkan 10 hal yang biasanya dia cari dari seorang wanita. Dunno if it’s true or not. Hey, if this true…good then, right?!

Beberapa hal dari wanita yang disukai oleh laki-laki adalah seperti disebutkan dibawah ini :

1. Punya Kehidupan Sendiri

Ladies, artinya kamu bisa mengurus dirimu sendiri, peduli dengan penampilan dan punya waktu untuk bergaul dengan teman dan keluarga. Kamu suka membuka mata dengan traveling, dan menikmati hidup – dari memesan dessert sampai jalan-jalan menikmati pagi yang cerah. Jangan melihat pasangan sebagai satu-satunya alasan untuk hidup. Dengan kata lain, kamu nggak menunggu seorang laki-laki muncul, untuk memulai hidupmu.

2. First Move?

Masalah ini memang masih jadi perdebatan, dan belum ada jawaban yang pasti. Tapi sebaiknya kamu bukan pihak yang mengejar. Coba tunggu si laki-laki idaman yang mengajakmu kencan duluan. Alasannya: Kalau si perempuan yang menelepon duluan, nggak akan tahu apakah si laki-laki memang tertarik atau memanfaatkan kesempatan. Kamu bisa jadi terus mempertanyakan hubungan tersebut nantinya. Sementara laki-laki nggak akan berpikir seperti itu, makanya mereka tepat untuk jadi pihak yang mengejar.

3. Seksi Tapi Nggak Murahan

Ada sedikit perbedaan arti untuk awal hubungan dan saat memasuki tahap yang lebih serius. Pada saat pendekatan, perempuan sebaiknya nggak menyatakan sesuatu yang terdengar seksual. Cara flirting pun dengan sentuhan yang non seksual seperti meletakkan tangan di lengan si laki-laki atau di lutut tapi hanya sebentar. Saat hubungan jadi lebih serius, dan lebih intim, sentuhan seksual dan public displays of affection boleh dilakukan.

4. Menunda Bercinta

Seks adalah step yang besar untuk pasangan. Banyak perempuan yang nggak sadar kalau seks bisa mengubah dinamisme hubungan. Saat perempuan berhubungan seks, kita melepaskan hormon yang disebut oksitosin (sering disebut hormon cinta), yang menurut riset membuat perempuan merasa hangat dan nyaman terhadap pasangan. Makanya kalau perempuan terlalu cepat melakukan the S word, bisa jadi malah membahayakan hubungan yang bisa jadi belum kuat dasarnya. Dan bisa mengakibatkan si laki-laki melesat pergi.

5. Little Things To Show She Cares

Seorang teman perempuan melihat kalau pacarnya yang seorang salesman sering nggak punya waktu untuk mencuci bajunya, dan jadinya beli baju baru saat perlu. Si teman pun seminggu sekali drop off his laundry at the dry cleaners. Ada lagi yang memasak untuk suaminya, atau mengirimkan makan siang untuk pasangannya. Bukan berarti si laki-laki nggak bisa melakukan hal tersebut sendiri. Intinya adalah kamu melakukan hal kecil yang memperlihatkan kalau kamu care dan memperhatikan kebutuhannya. Dan dia akan melakukan hal yang sama untukmu. Teman yang tadi bercerita kalau pacarnya nggak pernah lupa membelikan buah favoritnya setiap minggu.

6. I’ll Back You Up

Bantu dia terlihat oke di depan atasan atau keluarga. Tertawa saat dia bercanda dan membantunya ‘bersinar’ pada saat penting. Pastinya, dia akan melakukan hal yang sama untukmu.

7. No Pressure

Yang satu ini penting banget. Laki-laki cenderung menjauhi tekanan apapun. Makanya, perempuan sebaiknya menghindari menelepon dan/atau mengirimkan pesan terlalu sering atau memancing-mancing soal masa depan. Sesekali dibicarakan boleh saja pada saat yang tepat, tapi jangan terus diungkit-ungkit. Just enjoy the relationship and timing is everything.

8. Nggak Terima Diperlakukan Buruk

Laki-laki menghormati perempuan yang menjaga diri dan menghargai dirinya sendiri. A good woman never accepts bad behavior. Kalau dia menyadari ada hukuman dari satu perbuatan – untuk hal yang serius seperti selingkuh misalnya, dia akan menghormatimu dan kemungkinan melakukan hal tersebut, kecil. Dan kita sebagai perempuan, jangan pernah berhubungan dengan orang yang punya kecenderungan untuk menyakiti secara verbal atau fisik.

9. Choose A Good Man

Artinya kamu mencari seseorang yang jujur dan dapat diandalkan. Dia harus bisa memperlakukanmu dengan baik. Kalau berjanji, ditepati. Sikap yang baik bisa jadi jendela untuk melihat pribadinya. Sebaiknya kamu juga punya pandangan yang sama soal uang (yang jadi penyebab nomer satu masalah antar pasangan). Walaupun katanya opposites attract, si hemat sebaiknya berpikir ulang sebelum menjalin hubungan dengan si boros.

 

“Happiness 101, Strategi Penting Untuk Bahagia”

Posted on

Nggak cuma cara menundukkan sesuatu yang butuh strategi. Untuk hidup bahagia pun membutuhkan strategi jitu. Yang diperlukan cuma kekuatan pikiran.

Tahu nggak kalau kebahagiaan itu adalah pilihan? 50% yang menentukan kebahagiaan adalah gen, 10% kesempatan dalam hidup dan 40% ditentukan oleh sikap. Jadi kita bisa mengontrol seberapa positif perasaan kita. Berikut adalah strategi untuk bahagia, tergantung seberapa lama pilihan waktumu, semenit, satu jam atau seharian.

SATU MENIT

Duduk tegak. Orang cenderung merasa lebih percaya diri saat duduk lurus, dan bisa menyalurkan rasa percaya diri tersebut ke pikiran.

Berpikir cepat. Cara berpikir yang cepat bisa menghilangkan rasa sedih.

Segelas air. Dehidrasi bisa membuat kita cepat lelah dan air bisa mengembalikan level energi.

Palsukan. Tersenyum adalah cara untuk mengecoh otak agar berpikir semuanya baik-baik saja, walaupun sebenarnya tidak.

Berkaca dan pijat pipimu membentuk lingkaran dengan dua jari. Cara ini menstimulasi peredaran darah dan kamu bisa percaya diri dengan melihat cerahnya wajahmu.

Ganti kaset. Kalau kamu mendapati sedang mengatakan sesuatu yang negatif tentang diri sendiri, stop. Nggak bakal menolong siapapun untuk menjadi lebih baik.

Membagi rasa positif dengan orang lain. Saat teman kerja mencapai sebuah prestasi, beri pujian. Kalau potongan rambut teman terlihat bagus, katakan padanya. Kamu akan ikut merasa positif.

Makan kacang. Almond yang tinggi kalsium bisa mengurangi kegelisahan. Termasuk sumber selenium, yang merupakan mood booster natural. Kacang walnut juga mengandung asam lemak omega-3, yang bisa menjaga otak melawan depresi.

 

LIMA MENIT

Lipstik merah. Kamu nggak bisa jadi ‘latar belakang’ jika mengenakan lipstik merah. Membuat kamu terlihat cerah dan ceria.

Flirting. Bisa dengan kasir cute di Starbucks, teman Facebook… bahkan pasanganmu.

Deep squat 10 kali sehari. Metabolisme tubuh menjadi lancar dan mood membaik. Dalam dua minggu kamu akan melihat efeknya pada pantat dan paha.

Ngemil strawberry yang mengandung folat dan serotonin yang berkhasiat untuk melawan bad mood serta depresi.

Hilangkan kebiasaan. Misalnya ngemil donat, alkohol sepulang kerja… coba lewatkan selama seminggu. Hanya untuk membuktikan kalau kamu bisa.

Simpan rahasia. Saat mengalami hari yang buruk, pergi ke satu tempat dimana kamu bisa sendiri, misalnya ke toilet, dan joget-joget bagai orang mabuk. Rasa fun yang muncul karena melakukan sesuatu yang gila dan nggak normal serta rahasia bisa mengembalikan mood.

Bernapas. Cara bernapas yang benar membuat kita merasa aman dan tenang, dan penting untuk membakar lemak. Tutup matamu dan tarik napas, dan kembangkan perut, saat mengeluarkan napas, tarik perut ke dalam. Bayangkan warna favoritmu mengelilingi udara di sekitarmu dan teruskan menarik napas ke dalam paru-paru, dan memasukkan warna tersebut ke dalam tubuhmu.

Jangan mimpi menang undian. Menurut riset, kekayaan nggak membuatmu bahagia. Uang justru membawa lebih banyak masalah daripada memecahkan masalah.

 

SETENGAH JAM

Bersihkan permukaan. Meja berantakan mengingatkan akan hal yang harus dilakukan. Bisa membuatmu merasa gagal. Rapikan kertas-kertas, buku dan printilan lainnya dalam tumpukan masing-masing atau simpan di laci dan keranjang. Ilusi kerapihan bisa menenangkan pikiran.

Jangan mikir berlebihan. Kalau kamu mudah berpikir negatif dan terlalu banyak analisa, alihkan pikiranmu. Coba nonton DVD, atau lari. Dengarkan musik yang upbeat. Apapun lebih baik dibanding memikirkan apa yang salah hari ini.

Bicara bagaikan orang yang bahagia. Jangan deskripsikan hari yang sibuk dengan “stres”, katakan saja “sibuk”. Respon dengan antusias saat mendengar berita baik. Cari cara baru untuk menjelaskan sesuatu.

Nikmati lemak. Pastikan berasal dari alpukat, olive oil atau kacang. Menurut penelitian, pola makan yang kadar lemaknya sangat rendah bisa menimbulkan rasa gelisah, frustasi atau kemarahan.

Berkhayal. Tentang saat bahagia di masa lalu. Menurut riset, orang yang mengingat masa bahagia selama 30 menit bisa menaikkan kebahagiaan setelah satu minggu; semakin jelas memorinya, semakin besar efeknya.

Rencanakan waktu senang-senang. Download album baru, booking waktu pijat atau research untuk jalan-jalan saat weekend.


SATU JAM

Keluar. Sering-sering terkena sinar matahari, terutama di pagi hari, bisa tidur lebih nyenyak dan mood-nya membaik.

Pilates 100. Tidur telentang, angkat kaki sampai membentuk 45 derajat dari lantai, kemudian angkat kepala dan leher dengan sudut yang sama. Saat bertahan pada posisi ini, jaga agar tangan lurus di samping badan, telapak tangan menghadap ke bawah dan naik turunkan tangan sebanyak 100 kali (tarik napas dalam hitungan 5 kali naik turun dan buang napas dengan hitungan yang sama). Gerakan ini bisa membantumu mengurangi kadar kortisol atau hormon stres dan menaikkan hormon endorfin yang membuatmu merasa senang.

Download buku audio ke iPod, sehingga nggak bosan dan stres di perjalanan.

Update CV. Bisa jadi pekerjaan yang bikin stres saat kamu butuh cepat, tapi sangat memuaskan kalau lagi nggak urgent.

Jangan melakukan apapun. It’s healthy! Buang setengah jam dari waktu senggangmu. Orang yang memilih untuk tidur siang dibanding main tennis mempunyai kesempatan lebih baik untuk hidup lebih lama.

 

SATU HARI

Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang bahagia, sehat dan energik. Ini yang disebut psikolog “penularan emosi”. Artinya kita pasti terpengaruh oleh mood orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Simpan pengalaman seksual terbaik. Bisa dengan dituliskan, agar membantu kamu mengingat. Fantasi seks membuat kamu bersemangat dan aliran darah pun menjadi lancar. Efeknya sama dengan berhubungan seks atau olahraga.

Rapikan lemari. Sumbangkan yang sudah lama nggak pernah kamu pakai. Berbuat baik selalu membuat hati senang. Dan lemari yang rapi bisa menghemat waktu dan tenaga saat memilih pakaian.

Lakukan sesuatu yang baru. Bisa les bahasa Mandarin atau Salsa. Lakukan aktifitas di luar zona nyaman. Sehingga saat kamu berkonsetrasi mempelajari hal tersebut, kamu menciptakan energi positif. Pilih sesuatu yang berbeda setiap tahun.

“How To Be Yourself”

Posted on Updated on

When I surf, I found this fine article, but I forgot the link…sorry! Anyway please take a look for yourself and see if this article help you the way I am.

To be yourself means :

  • Respect others as much as you respect yourself. While being yourself means expressing yourself and your opinions, dreams, and preferences, it certainly doesn’t mean ramming these down other people’s throats! Everyone has needs, dreams, and wants that are equally deserving and it’s up to each one of us to acknowledge the other’s value as much as our own. Therefore, avoid being rude, thoughtless, or egotistical in your journey to being yourself.
  • Fads and trends are a personal decision. While some people avoid them like the plague in the name of “individualism”, others recognize them for what they are – groupspeak for fun and sharing in a particular period of time. Whether or not you choose to follow trends and participate in fads is entirely up to you; it doesn’t mean you’re not being yourself when you’ve made the choice for yourself to do so.
  • Be bold. As the famous song says: “Life’s not worth a damn, until you can say ‘I am what I am’!” and your sincerity at uttering such words is paramount in boldly proclaiming that you rock.
  • It can be hard to show your true interests at times, when others don’t care or mock them, but stand tall and simply expect others to at the very least, respect your choices. Having an air of authority and friendly expectation will do more than acting grievously wounded or angry when others disrespect your personal preferences. Remember, humor is far more likely to disarm and charm than irritability and a foaming mouth.
  • Balance bad habits and rein them in. Addiction to drugs, alcohol, internet, gaming, whatever, is disrespectful to the self and ultimately hurts the self more than any others. Find self-calming techniques in more constructive ways, such as meditation, relaxation, writing, music, sport, being active, cooking up a storm, etc.
  • While some may call you names and speak ill of your choices to be your weird, goofy self, most will respect your courage and certainty of self. And it is not a beauty parade where you’re seeking votes of approval anyway. Others like friends in their lives who live tall, proud, and differently because it gives them the strength to show themselves in the same light.
  • Work on the things that you dislike about yourself instead of seeing them as stumbling blocks to being a whole person. A too-large butt, a pimply face, a poor ability at math, a hatred of foreigners, alienating others with your anger, etc. – these are all things you can make a decision to fix or change, and the sooner, the better! Improve your self-esteem and your future by constantly working on the things you’re less than pleased about yourself and finding solutions that stick.
  • Change is a constant. So changing who you are over time is inevitable, and is always likely to be a good thing if you’ve been stayed informed, relevant, and clued in to the world around you and have allowed your personal development to be a top priority in your life.
  • Set an example for others instead of criticizing them. You don’t like what you see? Show them how to be better by being living proof of your own preferred way.
  • It might help you to see that everyone is showing you a mirror of yourself. In this way, what reflects back at you is 90 percent what you’re giving out. And you have 100 percent responsibility for yourself and your own actions!
  • A Buddhist tale tells of the importance of facing things we’d rather not at times: Three monks went toward a gate. The first monk went up to it but a snarling dog was there. He shook with fear and ran but the dog ran after him and ate him. The second monk went to the gate and also ran away but the dog caught up with him and gobbled him up. The third monk approached the gate and sized up the dog quickly. He gave the dog no time to bark but charged at him yelling fiercely. The dog whimpered, placed its tail between its legs and ran like mad away from the monk. The moral of the tale is to face your fears before they eat you up. Being yourself includes facing your fears and not letting them get the better of you, for as soon as you let fear run your life, you start marching to other people’s tunes, often tunes aimed at making you subservient, obedient, and in conformity with their preferences.

Warning!!!

  • Not caring about how others perceive you doesn’t mean letting go of the grooming and etiquette. Basic respect for yourself and others is founded in the rules of etiquette to ensure that we can all live together in harmony and with a basic level of expectation for how we will interact with one another politely. The less manners we use, the less we respect others, and ultimately, ourselves because we’re trying to be domineering and arrogant rather than cooperative and considerate. Use your manners widely, and be thoughtful of others.
  • Do not confuse cultural and social expectations with your desire to be unique. Sometimes thumbing your nose at convention will lead you to be ostracized or worse, so use your common sense when flaunting your individuality!
  • Love your friends but don’t fall into walking to their rhythm alone. Keep yourself individual and spread your time around various different people and activities with others so that you don’t end up unwittingly behaving like a “clone” of your friends within one inner circle.
  • Striving to be something you’re not can healthy when it involves improving academic, sport, and social interactions skills. It can be highly harmful when you’re striving to “be like” someone else just to have their popularity, appearance, and attitudes rub off on you. Keep unique by keeping your perspective focused on building your strengths through the inspiration of others, not through becoming like them.
  • Flaws deserve celebration because the mere act of acknowledging them takes such strength. However, flaws that can be remedied through study, focus, or other means should not be neglected through laziness or disinterest. Fix what you can about yourself where the cost of not doing so will dampen your enthusiasm and reduce your enjoyment of life.
  • It doesn’t always pay to “be yourself”. Sometimes to get ahead in life you need to fulfil what a company, a school, a powerful person wants from you. Sometimes you may need to be what they seek for a short time just to reach goals of your own choosing. You could stand on principle and thumb your nose at the situation and lose out as a result, or you could temporarily swallow your pride and fake it till you make it, nurturing your real self outside the particular context (at home, with friends, etc.) until your own authority is more powerful. It’s not always a dastardly dead to submerge your real self until your time comes; you need to be the best judge of that in the path you’ve chosen in life.
  • Know when going with the flow is easier than piping up. Sometimes it’s easier just to agree to going to a rock concert for a band you can’t stand to keep your friends happy. That’s about fitting in and being respectful of other’s preferences rather than about soiling your own preferences. Again, think manners and good socializing. In turn, they are more likely to be responsive to coming along to things you’d rather do.
  • If being yourself means you will end up in a cave all your life because you truly don’t fit in anywhere, it’s time for a rethink. That could be teetering on selfish thinking rather than independent thinking. Or it is a much more drastic external situation like being a gay person born to a homophobic family in a homophobic community within a homophobic ethnic group. If any community of people raised the way you were who look like you would react badly to something real about you, that’s a bad situation. It doesn’t make you a bad person or make the real thing untrue. It’s almost impossible to be yourself in that kind of situation. At that point you face hard choices about where and how to live. The choice that works for you best is the one to make. In those situations, even though it seems that way, you’re not the only one. Many people throughout history have relocated in order to live without fear of prejudice. Surprisingly, not all of them lost their family ties when coming out.